Sejarah kata 'Bible' (Alkitab) dari buku Jakob Van Bruggen, Siapa yang membuat Alkitab?

    Sejarah terbentuknya kata 'Bible' dimulai dari kata 'Ta Biblia' dalam bahasa Yunani, yang merujuk kepada tulisan-tulisan yang dibacakan di dalam gereja. Di dalam Alkitab kuno masih ditemukan keterangan ini, "Biblia,  itulah seluruh Kitab Suci, yang memuat semua buku kanon Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru".  kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tulisan-tulisan yang dipandang sebagai suatu kesatuan, sehingga istilah Biblia yang berbentuk jamak itu lambat laun diganti dengan kata 'Bible' atau dalam bahasa Indonesia yaitu 'Alkitab' yang berbentuk tunggal. 

    Kata yang lebih teknis untuk hal yang sama ialah Kanon. Kata itu menunjukkan kumpulan naskah para nabi, yang dalam bentuk final dan terinci menjadi milik agama Kristen yang memberi pedoman dan pengarahan. Gereja tidak mungkin mempunyai satu kesatuan pendapat untuk mengakui ke-12 pasal iman Kristen. seandainya mereka tidak memiliki Alkitab sebagai tolak ukur iman.

    Dalam Alkitab itu sendiri, kita tidak menjumpai satupun kata atau penunjuk istilah Alkitab dan kanon. Jadi sebutan itu diberikan kepada kumpulan tulisan itu di kemudian hari. Sebenarnya hal yang disebut Alkitab memang tidak di dikte kan sebagai istilah yang khusus tetapi tentu saja ada beberapa ayat dalam Alkitab yang merujuk kepada hal tersebut.

    Pertama, kita melihat di dalam Alkitab bahwa bagian-bagian dari wahyu yang sudah ditulis, selalu disebut dengan cara khusus. Dari kata yang dipilih kita dapat melihat bahwa para penulis sedang merujuk kepada suatu kepemilikan yang mempunyai batas dan normatif. Selain itu, mereka juga memakai kata yang bersifat meringkas, padahal kepemilikannya itu disusun dari tulisan yang terus bertambah, hasil karya dari orang-orang yang berbeda dan dari jaman yang berbeda pula.

Ketika Daniel ingin mengetahui apa yang dikatakan oleh Nabi Yeremia mengenai berapa lama Yerusalem harus berwujud puing-puing, ia membaca "kumpulan Kitab" (Dan. 9:2). Apa yang dicatat oleh Barukh dari mulut Yeremia dalam berbagai kesempatan, dianggap sebagai satu keseluruhan yang berwibawa, yang sama tingkatnya dengan, misalnya, hukum Musa mengenai makanan (bdk. Yer. 25:13; 30:2; 36:32; 51:60; Dan. 1:8; 9:10-11). Yesus sendiri berkata bahwa Dia tidak datang untuk meniadakan "hukum Taurat atau kitab para nabi" (Mat. 5:17). Dia merujuk kepada "Kitab-kitab Suci" (Yoh. 5:39). Yesus menyebut kanon Ibrani sebagai "Kitab Taurat Musa dan Kitab Nabi-nabi dan Kitab Mazmur" (Luk. 24:44); itu adalah Alkitab Ibrani dengan tiga bagiannya yang terkenal (tenach). 

baca : 2 Tim. 3:15; 2Pet. 3:15-16; 2Pet 1:20; 


    Kedua, kita perlu menunjukan pada keyakinan penuh dibalik kelaziman bahasa yang khusus ini, yaitu keyakikan bahwa di balik kitab-kitab para nabi yang banyak jumlahnya itu ada satu Pengarang. 

baca: Ibr 1:1; 2Pet 1:21; 2Tim 3:16; Am 3:8.


Ketiga, Alkitab berisi perintah Allah untuk memelihara apa yang telah diwahyukan. Bila Allah berfirman maka Firman-Nya itu tidak akan sekedar bersifat intervensi yang stimulatif dalam sejarah, yang hanya berlaku untuk waktu tertentu yang terbatas. Firman yang disampaikan-Nya itu berharga untuk masa-masa berikutnya dan berguna bagi mereka yang lahir di abad-abad mendatang. Dengan tangan-Nya sendiri, Tuhan mengukir hukum pada dua loh batu (Kel 31:18; Ul 9:10). 

baca: Yoh 14:24; Luk 2:19; Mat 28:19; Why 1:3; 2Ptr 1:19

Dari rumusan tersebut terbukti bahwa orang kristen bukan manusia dari sebuah buku, melainkan orang-orang yang percaya dengan memegang sebuah buku. 

    Cinta bagi Tuhan mereka dan penantian akan mendatang-Nya membuat mereka dengan teliti memelihara naskah yang mencatat segala pekerjaan-Nya.

Komentar